Langsung ke konten utama

Taman Nasional Gede-Pangrango : Favorit Tapi Sampah Menumpuk

Taman Nasional Gede - Pangrango ( TNGP ) adalah salah satu dari lima Taman Nasional pertama di Indonesia. Penamaan Taman Nasional ini berasal dari dua nama gunung yaitu : Gunung Gede ( 2958 m dpl ) dan Gunung Pangrango ( 3019 m dpl ) yang terletak di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Taman Nasional Gede - Pangrango merupakan salah satu daerah terbasah, di mana curah hujannya mencapai 3000 - 4000 mm / tahun, dengan suhu berkisar antara 10 - 18 derajat Celcius dan merupakan daerah pegunungan relatif asli di pulau Jawa, yang belum terpengaruh oleh usaha eksploitasi yang dilakukan manusia. Kawasan TNGP mempunyai ketinggian antara 1000 - 3000 m dpl.

Gunung Gede - Pangrango merupakan bagian gunung berapi yang membujur mulai dari Sumatera, Jawa, hingga Nusa Tenggara. Gunung Gede termasuk dari 35 gunung berapi di pulau Jawa yang masih aktif. Letusan gunung ini tercatat pertama kalinya pada tahun 1747, sedangkan letusannya yang terakhir pada tahun 1974. Saat iru Gunung Gede mempunyai kawah aktif yang mengeluarkan belerang Bioksida ( So2 ) dan Hidrogen Sulfida ( H 2 S ) yangmemberikan aroma tersendiri apabila mendekati puncak / kawah. Sedangkan Gunung Pangrango dinyatakan tidak aktif lagi atau mati.

Secara keseluruhan hutan di kawasan Gede Pangrango digolongkan pada tipe hutan hujan tropis pegunungan, berdasarkan perbedaan tinggi tempat. Mulai dari ketinggian 1500 m dpl - 2400 m dpl termasuk tipe hutan pegunungan (montana) yang didominasi tumbuhan Puspa (Schima waliichi ) dan Jamuju ( Dacrycarpus imbricatus ). Pada ketinggian 2400 m dpl sampai puncak gunung terhampar pemandangan indah hutan sub alpin yang jenis pepohonannya semakin rendah, atau kerdil dan didominasi oleh Cantigi ( Vaccinium varingiaefolium ), tumbuhan, tanah dan batu yang ditumbuhi lumut tebal. Di tempat terbuka sekitar puncak tumbuh bunga abadi yang lebih dikenal dengan nama Edelweis ( Anaphalis kjacvanica ).

Kawasan Taman Nasional Gede - Pangrango merupakan rumah dari 250 jenis burung, salah satunya adalah Elang Jawa ( Spizhetus bartelsii ) yang dijuluki " Satwa Dirgantara ". Keanekaragaman jenis burung yang paling tinggi ·terdapat di sub zona montana, dikarenakan makanan lebih banyak tersedia di wilayah ini, dengan pohon tinggi, besar dan rindang sehingga merupakan tempat ideal bagi berbagai jenis burung. Pada pagi hari sampai jam 10.00 WIB dapat dinikmati merdunya kicauan serta aneka warna berbagai jenis burung. Sedangkan dari jenis mamalia yang tercatat hidup di kawasan Taman Nasional Gede - Pangrango ini ada sekitar 110 jenis, diantaranya jenis-jenis primata seperti : Monyet ( Macaca fascicularis ), Lutung ( Trachypithecus auratus ) dan Owa ( Hylobates moloch ) yang sering ditemukan di zona montana dan sub montana sekitar jam pukul 08.00 WIB - 11.00 WIB.

Jejak macan tutul ( 'Panther pardus ) sering kali ditemukan di jalur pendakian. Ienis mamalia lainnya yang sering ditemukan adalah Kijang (,Muntiacus muntjak ), Babi Hutan ( Sus spp ) serta Tikus dan Tupai. Sigung ( Mydaus javensis ) sering menampakkan diri pada malam hari di sekitar kandang badak dan tak segan-segan mencuri makanan pendaki.

Bersih Gunung di Gede-Pangrango
Gunung Gede-Pangrango merupakan gunung paling favorit dan ramai dikunjungi para pencinta alam dan pendaki gunung, terutama di akhir pekan atau pada musim liburan, karena kedua gunung ini mudah dicapai hingga puncak. Kondisi ini menyebabkan banyaknya sampah dan kotoran berserakan di Gede - Pangrango, karena harus kita akui masih sangat kurangnya kepedulian dan kedisiplinan masyarakat Indonesia terhadap lingkungannya.

Dalam rangka memperingati Tahun Gunung Internasional 2002 ( The International Year of Mountains 2002 ) sekaligus memperingati Hari Pariwisata In#ernasional dan Nasional, Kementerian Kebudayaan Pariwisata dan Badan Pengembangan Kebudayaan Pariwisata : kerja sama dengan Pemda Cianjur; Perum Perhutaru .dan Pecinta Alam Indonesia mengadakan kegiatan Bersih Gunung di Taman Nasional Gede-Pangrango pada tanggal 24 - 27 September 2002.

Kegiatan yang diikuti oleh 204 pendaki dari berbagai kalangan pecinta alam ini adalah untuk membersihkan dan memungut berbagai jenis sampah dari dua pintu masuk resmi Gede -Pangrango yaitu : Cibodas dan Gunung Putri di . sepanjang jalur pendakian. Dari pengamatan Tamasya yang ikut serta, walau tidak sampai puncak, ada beberapa macam jenis sampah yang harus diambil oleh pendaki, yaitu berupa : puntung rokok, kaleng makanan; lcaleng minuman, tutup botol, batere bekas, plastik, bungkus permen; botol minuman, dan lain-lain. Alhasil selama 3 hari pembersihan jalur telah berhasil diangkut sebanyak 300 karung sampah dari kedua jalur pendakian tersebut.

Sangatlah disayangkan, kurang disiplinnya para pendaki dalam mentaati peraturan yang telah ditentukan. Begitu juga pada acara penutupan bersih gunung ini, Menteri lCebudayaan dan Pariwisata I Gede Ardika merasa terharu, mengapa di Gunung Gede - Pangrango ini masih dapat dikumpulkan beratus-ratus karung sampah yang berhasil diturunkan.

Sebenarnya pihak Taman Nasional selalu menghimbau kepada setiap pendaki yang ingin melakukan pendakian ke puncak Gede - Pangrango yaitu berupa wejangan dan nasehat agax janganlah sekali-kali membuang Sampah.di dalam kawasan Taman Nasional, bawalah sampah turun kembali dan jangan ditinggalkan di sepanjang jalur pendakian: Tapi kenyataannya himbauan ini tidak berlaku bagi sebagian besar pendaki. Mereka menganggap bahwa itu hanyalah himbauan belaka. Alhasil sampah-sampah menumpuk dan berserakan di sepanjang jalur Gede Pangrango.

Tujuan acara bersih gunung ini adalah untuk mengajak seluruh komponen masyarakat Indonesia khususnya untuk bersama-sama melakukan kegiatan membersihkan gunung yang ada di wilayahnya masingmasing. Kegiatari ini juga merupakan sarana pendidikan publik untuk selalu memelihara kebersihan dan kesehatan di lingkungan objek dan daya tarik wisata, yang merupakan upaya nyata bersama untuk memelihara; melindungi dan menjaga kelestarian ekosistem gunung sebagai penyangga kehidupan: Juga tentunya untuk mempromosikan kepada masyarakat luas bahwa salah satu tujuan kegiatan pariwisata adalah pegunungan, khususnya generasi muda (Pecinta Alam Indonesia) dalam rangka menanamkan rasa tinta akan tanah air.

Tiga Pintu Resmi
Taman Nasional Gede - Pangrango dapat dituju melalui 3 pintu resmi yaitu : Cibodas, Gunung Putri Cipanas dan Selabintana Sukabumi. Dari Cibodas berjarak 100 km dari Jakarta ke arah Cianjur atau sekitar 2 jam perjalanan, dan 80 km dari Bandung ke arah Bogor atau sekitar 2 jam berkendaraan roda empat.

Rute yang ditempuh untuk menuju Puncak Gede - Pangrango adalah : Pintu Gerbang Taman Nasional, Telaga Biru, Rawa Gayonggong, Air Terjun Cibeureum, Air Panas, Kandang Batu, Kandang Badak, Puncak Gede, Alun-Alun Suryakencana, Puncak Pangrango. Rute dari Gunung Putri berjarak sekitar 7 km dari Cipanas atau 1,5 jam berkendaraan roda empat, melalui : Bumi Perkemahan Bobojong, Buntut Lutung, Simpang Malaber, Alun-Alun Suryakencana, Puncak Gede, Puncak Pangrango. Sedangkan dari Salabintana sekitar 11 km ke arah utara dari pusat kota Sukabumi atau sekitar 1,5 jam berkendaraan melalui : Bumi Perkemahan Pondok Halimun, Air Terjun Cibeureum, Cigegeber, Cileutik, Alun-Alun Suryakencana, Puncak Gede, dan Puncak Pangrango.

Diharapkan dengan dipilihnya Taman Nasional Gede - Pangrango dalam rangka bersih gunung iru, akan menjadi contoh kepada para pendaki gunung untuk selalu menjaga dan tidak membuang sampah sembarangan di sepanjang jalur pendakian, dan selalu mentaati peraturan yang telah diberikan oleh pihak Taman Nasional unfiuk jangan menangkap, melukai, membunuh satwa, memetik bunga edelweis dan tumbuhan lainnya. Anda ada di dalam lingkungan alam, berusahalah mencintai alam dan hiduplah, dengan nuansa alam.

2 komentar

Postingan populer dari blog ini

Pendaki Punya Puisi

Kerinduan nyanyian alam
Membawa angan melayang
Susuri tapak-tapak kaki silam
Tertutup semak berduri dan berdebu
Yang sekian lama menyesak kalbu
Menguji kekuatan sanubari kehidupan demi kehidupan
Menuju puncak kehormatan meski tanpa bentuk
Seperti terlukis dalam benak


Semakin lama langkah tak terkendali, terseok-seok
Jatuh bangun, kadang keluar jalur setapak
Aku tersentak, bingung, kagum, penat, …

Entah apalagi
Terdiam berdiri kutoleh ke segala penjuru arah
Oh… ternyata harus jengah sejenak mengusap keringat
Dingin berselimut kabut terasa menusuk belulang
Terduduk lamunan membawa bimbang
Pada seluruh perseteruan rasa, asa, dan maut…


Namun, gejolak itu cepat mereda terbuai
Rona alam yang tak asing dalam ingatan
Keabadian edelweis mengejek sisa-sisa semangat
Aku marah …
Aku berontak menggandeng segenap rasa
Yang bersemayam dalam diri mencoba jejakkan langkah
Pada episode selanjutnya


Akhirnya, …
Perjalanan hidup mati ini pun sampai pada puncaknya
Sembah sujud mencium tanah kebebasan
Semb…

Kisah dibalik hilangnya tujuh pendaki

...hahahaha.. kata itu yang pantas aku ucapkan setelah selesai mendaki bersama TIM Gabungan pencari korban. Betapa tidak, berawal dari kepanikan salah seorang anggota pendaki, hingga akhirnya merembet ke kota bahkan seluruh negeri, menjadi berita utama media massa, dikhawatirkan orangtua, dan dicari-cari puluhan orang di gunung, padahal mereka sendiri (merasa) baik-baik saja di gunung. Sempat ada dugaan, bahwa Trias yang bukan anggota Tribuana digojlok oleh teman-temannya, sengaja disuruh berjalan sendiri, hingga kemudian dia panik dan mengirim sms ke salah satu temannya di Jakarta. Tapi hal ini tidak benar, kata Zion, leader, yang mengatakan bahwa Trias memang mendahului teman-temannya agar lebih cepat mencapai puncak. Trias hampir terjebak gelap, panik, Selama beberapa hari mereka menjadi berita utama di media massa, sementara (katanya) mereka baik-baik saja di gunung. Bahkan oleh warga yang menemukan mereka katanya mereka sedang enak-enak bikin sop ayam. Tentu saja mereka mengelak…

JALUR PENDAKIAN ALTERNATIF GUNUNG GEDE

Sebelumnya kami mohon maaf bila tulisan ini tidak berkenan di beberapa orang/instansi karena tulisan di bawah ini saya hadirkan bukan bermaksud untuk mengajak teman-teman pendaki/pecinta alam untuk menjadikan jalur ini sebagai jalur utama.. karena judulnya juga kan Jalur alternatif. Ini hanya sebagai sumber tambahan lain bahwa keindahan gunung Gede dan Pangrango dapat dinikmati dari semua sisi dan tentunya akan menjadi sebuah perjalanan yang menyenangkan, menantang dan takkan terlupakan.
Pertama kali saya dan teman teman BeeMouNTaiN Adventure mendapatkan informasi ini dari seorang petani di wilayah kaki gunung Gede Pangrango tepatnya di sekitar daerah Pasir Datar Kecamatan Kadudampit Kabupaten Sukabumi. Saat itu saya sedang bersilaturahmi dengan seorang teman yang sama-sama suka mendaki gunung juga. Awalnya rencana saya mendaki gunung akan memakai jalur resmi yaitu dari jalur Cibodas dan Gunung Putri Cianjur, namun entah kenapa dalam pikiran muncul niat untuk mencoba jalur yang di …