GUNUNG SALAK Kenangan Pendakian Tahun 2005

Iseng iseng buka hardisk lama terus di slave akhirnya nemu juga nih foto Gunung Salak versi jadul. foto ini dibuat sekitar tahun 2005 waktu masih zamannya kelas 2 SMA dulu, tuh kelihatan kan fotonya juga buram ya iyalah di scan lagi..maklum karena waktu itu kita belum punya foto digital jadi ya hasilnya seadanya gitu.

Tapi meskipun jadul foto Gunung Salak ini sangat berkesan sekali karena inilah awal mulanya terbentuk group pendakian BeeMouNTain adventure.
personil BeeMouNTain adventure yang ikut pendakian ke gunung salak ini adalah Abie Nk, Ipunk, wildan, Agunk, Ile, Lutfi Ukut, sama yang satunya saya lupa lagi karena dah lama gak ketemu.

Pendakain ke Gunung Salak ini menjadi cerita sendiri bagi semua personil beemountain karena untuk bisa berangkat ke gunung salak masing masing personil harus punya izin dari ortunya masing-masing, maklum ABG kemana-mana harus ada izin yang melahirkan.

Bermodalkan semangat ingin melakukan pendakian akhirnya berangkat juga ke Gunung Salak. waktu itu kita start dari rumah si fauzi dan perjalanan untuk sampai ke Gunung Salakini ditempuh dengan perjuangan yang tak lazim. Kok bisa ya.. tak lazim karena transportasi yang dipakai bukan pesawat, bukan kereta bukan pula bis kota. kita berangkat menggunakan jasa Angkutan milik orang alias ngompreng atau anak2 menyebutnya "ngadayak".. hehehe ngadayak itu adalah istilah anak anak sekolah untuk kegiatan bepergian numpang mobil truk punya orang.

kita berangkat dari Cisaat jam 06.00 pagi sampai di cicurug jam 5 sore padahal kalo naik angkutan umum gak sampai 1 jam tapi meskipun "tersiksa" kita enjoy aja karena uang buat ongkos bis nya kita belikan makanan yang sangat banyak.

sampai di gerbang Gunung Salak jam 7 malam dan kita putuskan untuk bermalam di mushola dekat pos jaga Gunung Salak. esoknya setelah solat subuh baru kita start untuk mendaki ke Gunung Salak.

sepanjang perjalanan kita nyanyi lagu Gie yang ada di filmnya si "GIE" yang pemerannya nicholas saputra

sampaikanlah pada ibuku
aku pulang terlambat waktu
ku akan menaklukan malam
dengan jalan pikiranku

sampaikanlah pada bapakku
aku mencari jalan atas semua keresahan2 ini
kegelisahan manusia
rasalah malam yang dingin

tak pernah berhenti berjuang
pecahkan teka teki malam
tak pernah berhenti berjuang
pecahkan teka teki keadilan

berbagi waktu dengan alam
kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya
hakikat manusia

tak pernah berhenti berjuang
pecahkan teka teki malam
tak pernah berhenti berjuan
pecahkan teka teki keadilan

akan aku telusuri
jalan yang setapak ini
semoga aku temukan jawaban...

anak anak hafal lagu ini karena filmnya sering diputar dirumahku jadi hafal semua lagunya.

Banyak kisah lucu yang hadir di pendakian Gunung Salak ini. salasatunya yang masih ingat adalah saat kita start dari pos 1 di gerbang kita bawa air banyak banget, satu orang dua botol air mineral ukuran 1,5 Liter duh.. udah tas berat masih harus bawa bawa air segala, kalau tidak karena kebutuhan mana mau kita bawa air segitu banyaknya.

Di tengah perjalanan tak disangka eh.. malah menemukan sungai dengan debit air yang sangat banyak, melimpah ruah.. huuhh kata ci ipunk "ngapain capek capek bawa air dari bawah kalau di atas bakal nemuin air banyak kayak gini" terus yang lain menjawab "eits gak boleh gitu, air tetap bawa kita kan ga tau di atas airnya banyak apa nggak" dan akhirnya air yang dari bawah terus kita bawa lagi.

Sepanjang perjalanan hampir setiap 1 km kita menemukan sumber air yang sangat berlimpah dan akhrinya setelah hampir sampai puncak sambil tertawa semuanya membuang air yang kita bawa dari bawah " tuh pan ceuk urang oge rek naon mawa cai kabeurat beurat da engke oge bakal manggih cai di luhur, piraku we pan di Gunung salak teh sumber cai ka pabrik aqua " translatenya gini :" kata gua juga apa, ngapain berat berat bawa air dari bawah toh nanti diatas juga bakal ketemu dengan sumber air lagi, masa seh kekuarangan air kan di Gunung Salak teh sumber air ke pabrik aqua "

Kelucuan masih berlanjut setelah sampai di puncak ehh.. ternyata malah ada warung TOSERBA nya pendaki punya pak asmin, kenapa disebut toserba karena warungnya super komplit untuk kebutuhan para pendaki yang mau bermalam di puncak gunung salak. huhuhuhuh... tau gini ngapain juga bawa2 makanan banyak2.

Tak menunggu lama kita buat tenda terus memasak dan selanjutnya tidur.. pagi2 pagi bangun dan langsung nyebur ke kawah karena saat itu belum begitu ketat jadi kita bisa berendam langsung di kawah Gunung Salak, Subhanalloh segar dan nikmatnya.. pokoknya kalah dah spa yang ada di hotel indonesia mah hehehe...

Satu lagi nih yang bikin kita tertawa terbahak-bahak yaitu waktu kita turun terus ketemu sama anak2 SMA yang mau naik. kalau diliat dari gayanya sih tuh anak dari jakarta, mereka nanya ke kita " bang kalau diatas air banyak gak?" dengan refleks sala seorang menjawab "air di sana sulit bro, ente kalau mau udah bawa dari sini air yang banyak ntar kalau gak gitu lu bisa mati kehausan"'oh gitu ya bang" tak begitu lama temannya datang bawa dua buah galon ukuran 12 liter terus dia isi penuh tuh galon 12 liternya. udah penuh dia angkut sambil "beubeuregeg" karena beratnya dan jalan yang menanjak. setelah mereka pergi kita semua tertawa terpingkal-pingkal karena mau-maunya di boongin hahahahaha.. ternyata ada yang lebih parah dari kita bro..wakakakkakkk

setelah sampai di rumah kita cerita ke orang2 yang dirumah dan semua tertawa mendengar pengalaman kita pertama kali Mendaki Gunung

itulah selembar kisah yang tercatat dan teringat sampai saat ini.

oh iyaa sebelum pamitan nih koleksi foto jadulnya ( maaf ya aku compres tuh fotonya karena inetnya lagi parah..beuuhhhh )

nih kita lagi di depan pos gerbang gunung salak

Ditengah perjalanan ke Gunung Salak dengan medan yang terjal

Nih foto barang bukti kalau di Gunung salak banyak air melimpah

Foto Kita Lagi di Kawah Ratu Gunung salak

Foto bersama di Kawah Ratu Gunung salak setelah berendam air hangat

Numpang keren dikit di depan objek wisata Javanasva
40 komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah dibalik hilangnya tujuh pendaki

Pendaki Punya Puisi